di infus di rumah sakit
Kapan dan Mengapa Infus Dibutuhkan di Rumah Sakit?
Infus, atau terapi intravena (IV), merupakan prosedur medis umum di rumah sakit yang melibatkan pemberian cairan, obat-obatan, atau nutrisi langsung ke pembuluh darah pasien melalui jarum atau kateter. Kebutuhan akan infus muncul dalam berbagai situasi klinis, mulai dari rehidrasi sederhana hingga penanganan kondisi medis yang mengancam jiwa. Pemahaman mendalam tentang kapan dan mengapa infus diperlukan adalah krusial bagi pasien, keluarga, dan tenaga medis.
Dehidrasi dan Keseimbangan Elektrolit:
Salah satu alasan paling sering infus diberikan adalah untuk mengatasi dehidrasi. Dehidrasi terjadi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi. Penyebabnya bisa beragam, termasuk muntah, diare, demam tinggi, keringat berlebihan, atau asupan cairan yang tidak memadai. Gejala dehidrasi ringan meliputi rasa haus, mulut kering, dan urine berwarna gelap. Dehidrasi berat dapat menyebabkan pusing, kebingungan, penurunan tekanan darah, dan bahkan syok.
Infus rehidrasi biasanya mengandung larutan garam (natrium klorida) atau glukosa (dekstrosa) dalam air. Larutan garam membantu menggantikan elektrolit yang hilang, seperti natrium, kalium, dan klorida, yang penting untuk fungsi seluler yang tepat. Larutan glukosa memberikan energi dan membantu menjaga kadar gula darah yang stabil. Pada kasus dehidrasi berat, infus dapat diberikan dengan cepat untuk memulihkan volume cairan dan tekanan darah.
Pemberian Obat-obatan Intravena:
Banyak obat-obatan lebih efektif atau hanya dapat diberikan melalui infus. Beberapa alasan mengapa obat diberikan melalui infus meliputi:
- Absorpsi Cepat dan Lengkap: Infus memastikan bahwa obat langsung masuk ke aliran darah, melewati proses penyerapan di saluran pencernaan. Ini sangat penting dalam situasi darurat ketika efek obat dibutuhkan dengan cepat.
- Bioavailabilitas Tinggi: Bioavailabilitas mengacu pada proporsi obat yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk aktif. Obat yang diberikan melalui infus memiliki bioavailabilitas 100%, karena tidak ada obat yang hilang selama penyerapan.
- Obat yang Tidak Stabil di Saluran Pencernaan: Beberapa obat rusak oleh asam lambung atau enzim pencernaan dan tidak efektif jika diminum secara oral. Infus memungkinkan obat-obatan ini diberikan tanpa degradasi.
- Obat yang Mengiritasi Saluran Pencernaan: Beberapa obat dapat menyebabkan iritasi atau kerusakan pada lapisan saluran pencernaan jika diminum secara oral. Infus menghindari kontak langsung obat dengan saluran pencernaan.
- Pasien Tidak Mampu Menelan: Pasien yang tidak sadar, memiliki kesulitan menelan (disfagia), atau sedang menjalani operasi seringkali membutuhkan infus untuk pemberian obat.
Contoh obat-obatan yang sering diberikan melalui infus meliputi antibiotik (untuk infeksi), analgesik (untuk nyeri), kemoterapi (untuk kanker), dan obat-obatan kardiovaskular (untuk penyakit jantung).
Pemberian Nutrisi Parenteral (TPN):
Nutrisi parenteral total (TPN) adalah metode pemberian nutrisi langsung ke aliran darah melalui infus. TPN digunakan ketika pasien tidak dapat makan secara oral atau enteral (melalui selang makanan) karena berbagai alasan, termasuk:
- Penyakit Inflamasi Usus (IBD): Pasien dengan penyakit Crohn atau kolitis ulserativa mungkin mengalami malabsorpsi nutrisi dan membutuhkan TPN untuk memenuhi kebutuhan nutrisi mereka.
- Obstruksi Usus: Jika usus tersumbat, makanan tidak dapat melewati saluran pencernaan dan TPN menjadi satu-satunya cara untuk memberikan nutrisi.
- Sindrom Usus Pendek: Setelah operasi pengangkatan sebagian besar usus, pasien mungkin tidak dapat menyerap nutrisi yang cukup dari makanan dan membutuhkan TPN.
- Pankreatitis Akut: Pasien dengan pankreatitis akut mungkin perlu mengistirahatkan saluran pencernaan mereka dan menerima nutrisi melalui TPN.
Larutan TPN mengandung campuran karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang disesuaikan dengan kebutuhan individu pasien. TPN membutuhkan pemantauan ketat oleh tenaga medis untuk mencegah komplikasi, seperti infeksi, ketidakseimbangan elektrolit, dan gangguan fungsi hati.
Transfusi Darah:
Transfusi darah adalah proses pemberian darah atau komponen darah (sel darah merah, trombosit, plasma) ke pasien melalui infus. Transfusi darah diperlukan dalam situasi berikut:
- Anemia: Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat. Transfusi sel darah merah dapat meningkatkan kadar hemoglobin dan oksigen dalam darah.
- Perdarahan Hebat: Setelah trauma, operasi, atau persalinan, pasien mungkin kehilangan banyak darah dan membutuhkan transfusi untuk menggantikan volume darah yang hilang dan mencegah syok.
- Gangguan Pembekuan Darah: Pasien dengan gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, mungkin membutuhkan transfusi trombosit atau faktor pembekuan darah untuk menghentikan atau mencegah perdarahan.
- Kanker Darah (Leukemia): Pasien dengan leukemia mungkin membutuhkan transfusi sel darah merah, trombosit, atau sel darah putih untuk mengatasi efek samping dari kemoterapi atau radiasi.
Sebelum transfusi darah, golongan darah pasien harus dicocokkan dengan golongan darah donor untuk mencegah reaksi transfusi yang berbahaya.
Pemantauan dan Komplikasi Infus:
Selama pemberian infus, pasien harus dipantau secara ketat oleh tenaga medis untuk mendeteksi tanda-tanda komplikasi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:
- Infeksi: Infeksi dapat terjadi di tempat pemasangan infus (flebitis) atau di aliran darah (sepsis).
- Infiltrasi: Infiltrasi terjadi ketika cairan infus bocor ke jaringan di sekitar pembuluh darah.
- Ekstravasasi: Ekstravasasi terjadi ketika obat-obatan yang mengiritasi atau merusak jaringan bocor ke jaringan di sekitar pembuluh darah.
- Overload Cairan: Overload cairan terjadi ketika tubuh menerima terlalu banyak cairan, yang dapat menyebabkan sesak napas dan gagal jantung.
- Reaksi Alergi: Pasien dapat mengalami reaksi alergi terhadap obat-obatan atau cairan yang diberikan melalui infus.
Tenaga medis akan mengambil langkah-langkah untuk mencegah dan mengobati komplikasi infus. Ini termasuk menggunakan teknik aseptik saat memasang infus, memantau tempat pemasangan infus secara teratur, dan memberikan obat-obatan sesuai dengan resep dokter.
Jenis-jenis Cairan Infus yang Umum:
Berbagai jenis cairan infus tersedia, masing-masing dengan komposisi dan indikasi yang berbeda. Beberapa jenis cairan infus yang umum meliputi:
- Nlinar Sembilan (NCl 0,9%): Digunakan untuk rehidrasi dan penggantian elektrolit.
- Dekstrosa 5% dalam Air (D5W): Digunakan untuk memberikan energi dan membantu menjaga kestabilan kadar gula darah.
- Cincin Laktat: Mengandung elektrolit yang mirip dengan plasma darah dan digunakan untuk rehidrasi dan penggantian elektrolit.
- Koloid: Mengandung molekul besar yang menarik cairan ke dalam pembuluh darah dan digunakan untuk meningkatkan volume darah. Contohnya termasuk albumin dan dekstran.
Pemilihan cairan infus yang tepat tergantung pada kondisi medis pasien dan tujuan terapi.
Keselamatan dan Perawatan Pasien:
Keselamatan pasien adalah prioritas utama selama pemberian infus. Tenaga medis harus mengikuti protokol yang ketat untuk memastikan bahwa infus diberikan dengan benar dan aman. Pasien dan keluarga mereka juga memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan. Mereka harus melaporkan setiap gejala yang tidak biasa, seperti nyeri, kemerahan, bengkak, atau gatal di tempat pemasangan infus, kepada tenaga medis. Edukasi pasien tentang tujuan infus, potensi risiko, dan tindakan pencegahan juga penting untuk meningkatkan kepatuhan dan hasil pengobatan.
Infus adalah prosedur medis yang umum dan penting di rumah sakit. Dengan pemahaman yang baik tentang kapan dan mengapa infus diperlukan, serta tindakan pencegahan yang tepat, infus dapat membantu menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

